Dakwah: Cikal Bakal Kembalinya
Peradaban Islam
Oleh
Krisdianti Nurayu Wulandari
Dakwah adalah sebuah aktivitas kebaikan yang diwajibkan oleh Allah
kepada kita (umat Islam). Jadi, aktivitas dakwah bukan hanya aktivitasnya para
Kyai, atau para Ulama’, melainkan dakwah juga salah satu aktivitas yang
diwajibkan kepada kita untuk kita kerjakan. Dakwah berasal dari kata دعا – يدعوا yang memiliki arti mengajak. Aktivitas dakwah
ini disematkan kepada kaum Muslimin sebagai aktivitas yang istimewa. Kenapa
istimewa? Karena umat sebelumnya tidak pernah dipikulkan kepada mereka
kehormatan ini. Karena juga pada dasarnya dakwah adalah tugas para Nabi dan
Rasul. “Dakwah adalah Aktivitas yang Mulia.”
Para pengemban dakwah ini amat dimuliakan
oleh Allah SWT. Mereka mulia karena mereka telah menyampaikan ayat-ayat yang
agung dengan cara yang penuh kebaikan bukan dengan kekerasan. Maka, yang
disampaikan para pengemban dakwah inilah yang membuatnya dimuliakan oleh Allah.
Karena tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang
menyeru kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam firmannya:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّنْ دَعاَ اِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا
وقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya: “Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh,
dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’”
(QS. Fusshilat [41]: 33)
Islam adalah agama yang sangat luarbiasa.
Allah telah menjadikan Islam sebagai agama yang diridhoi disisinya, sekaligus telah
menetapkan pokok-pokok kandungan Al-Quran secara lengkap. Hal inilah yang juga
menjadikan Islam sebagai sebuah mabda’, karena memiliki aqidah yang
memancarkan peraturan dan didalamnya terdapat fikrah dan thariqah
untuk menyelesaikan seluruh problematika yang sedang dihadapi oleh umat. Oleh
karena itu, di dalam menyampaikannya juga membutuhkan penyampaian yang menarik
atau tidak membosankan. Karena sering kita dapati orang-orang di sekitar kita
khususnya anak muda zaman now, lebih tertarik datang ke konser-konser yang
penuh maksiat bahkan menghabiskan berjuta-juta uang daripada datang ke
pengajian yang berisi kebaikan bahkan tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun
untuk menghadiri pengajian tersebut. Inilah yang perlu kita amati. “Pemuda
Zaman Now Lebih Tertarik Datang Pada Konser Musik Daripada Datang Ke
Pengajian.”
Perlu kita amati bahwasannya sering sekali
kesempurnaan dan keindahan Islam itu disampaikan dengan cara yang kurang
menarik dan seadanya, padahal apa yang kita sampaikan ini adalah ide-ide yang
penuh kebaikan. Disisi lain, para penyampai ide kufur saat ini lebih memahami
tentang bagaimana menyampaikan “Dakwah” mereka. Mereka memoles dan mengemas
produk pemikiran mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka rela menghabiskan tenaga
dan hartanya untuk menyampaikan ide-ide kufur mereka. Tak lain dan tak bukan,
mereka tentunya menginginkan materi, materi, dan materi dan keberhasilan tujuan
utama mereka, yaitu menghancurkan Islam baik dari luar maupun dari dalam,
terutama generasi emas Islam yang betonggak pada yang namanya pemuda.
Dakwah di era saat ini tentunya memiliki tantangan
tersendiri. Sebagaimana dulu Rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya ada saja
halangan dan rintangan yang menerpa diri Rasulullah. Jika dulu pada era Rasulullah
menyampaikan dakwahnya dengan menghampiri ke setiap rumah yang ada, atau dengan
menggunakan wayang seperti Walisongo, maka saat ini, kita memepunyai era yang
sangat berbeda dengan era-nya Rasulullah, sahabat Nabi, ataupun Walisongo. Pada
zaman kita saat ini, IPTEK telah berkembang se-demikian rupa. Dengan
berkembangnya IPTEK ini, tentunya membawa keberuntungan bagi dakwah Islam.
Dakwah Islam akan bisa tersebar luas ke seluruh penjuru dunia jika kita bisa
memanfaatkan IPTEK tersebut dengan baik.
Jika kita mencermati lingkungan di sekitar
kita, maka kita akan mendapati dari berbagai kalangan, baik tua maupun muda
yang selalu dipegang dan dilihat tiap menit bahkan tiap detik adalah smartphone.
Fakta membuktikan bahwasannya banyak diantara mereka yang aktif di dunia sosial
media. Mulai dari instagram, youtube, facebook, twitter dan lain sebagainya.
Inilah yang menjadi tantangan dakwah di zaman sekarang. Jika mayoritas penduduk
bumi aktif di sosmed, maka para penyampai ide yang mulia ini juga harus aktif
di sosmed dan kreatif dalam memoles dan mengemas idenya dengan menarik.
Misalkan ide yang mau disampaikan itu bisa dituangklan dalam bentuk video,
poster, quotes, atau yang lain. Jangan sampai ide kita yang mulia ini tergeser
dengan ide kufur yang lebih menarik. Bagaimana kita menyampaikan dakwah ini
adalah suatu hal yang penting demi tersampaikannya ide kita di tengah
masyarakat. Oleh karena itu, kita harus benar-benar memperhatikan konteks atau
kulit luar dari dakwah yang kita sampaikan. Jika isi dan kulit luarnya menarik,
maka akan banyak orang-orang yang mudah menerima dakwah yang kita sampaikan.
Kemudian penting pula dalam masalah siapa
yang menyampaikan. Tentunya yang menyampaikan ide ini haruslah dari orang yang
terpercaya bukan dari orang yang sukanya membuat kebohongan di tengah
masyarakat. Seperti halnya Rasulullah di kalangan kaum Quraisy terkenal dengan
sifatnya yang jujur, amanah bila dipercaya, serta senatiasa memenuhi janji
apabila beliau berjanji. Perkataan beliau lembut dan bersahaja. Beliau juga
adil dalam memutuskan sesuatu, baik perangainya, peduli pada yang lemah dan
pandai menempatkan diri pada yang kuat. Kesempurnaan inilah menjadikan diri
Rasulullah digelari dengan Al-Amin. Maka sulit bagi kaum Quraisy untuk tidak
menentangnya. Karena kesempurnaan akhlak ada pada diri Rasulullah.
Dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Nabi SAW
keluar menuju Bathha’ kemudian beliau naik ke bukit seraya berseru, “Wahai
sekalian manusia!” Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Kemudian beliau
bertanya, “Bagaimana sekiranya aku mengabarkan kepada kalian bahwa musuh (di
balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan
membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi , “Sesungguhnya aku
adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan
ada adzab yang pedih.” Akhirnya Abu Lahab pun berkata, “Apakah hanya karena itu
kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakaanlah bagimu.” Maka Allah menurunkan
firman-Nya: “Tabbat yadaa abii Lahab...” Hingga akhir ayat. (HR.
Bukhari-Muslim)
Lihatlah dalam hadist tersebut menunjukkan
bahwa mereka tidak menolak Nabi Muhammad sebagi penyampai pesan, akan tetapi
yang mereka tolak adalah adalah pesan yang dibawa oleh Rasulullah, dimana pesan
tersebut berat bagi mereka untuk meninggalkan ajaran nenek moyangnya yang telah
mengakar dalam diri mereka. Padahal mereka juga tidak mengingkari bahwa
Rasulullah memiliki pribadi yang mulia. Jika dibandingkan dengan dakwah yang
kita sampaikan seringkali kita ditolak bukan karena pesan yang disampaikan akan
tetapi kitalah yang ditolak disebabkan tidak terpercaya. Meskipun ada juga para
pengemban dakwah yang ditolak karena pesan yang disampaikan. “Materi yang
Sama, dengan Cara Penyampaian yang Sama Bisa Menjadi Cacat Apabila yang
Menyampaikan Tidak Terpercaya.”
Adapun tatacara dalam berdakwah telah
Rasulullah contohkan kepada kita. Rasulullah dalam mendakwahkan Islam
bercirikan tiga hal. Pertama, Rasulullah senantiasa berdakwah tanpa menggunakan
kekerasan. Kedua, fokus pada mengubah pemikiran. Ketiga, menyentuh
wilayah-wilayah politis. Ketiga ciri tersebut dapat dilihat dalam tahapan
dakwah Rasulullah di Makkah hingga hijrah ke madinah. Tahapan dakwah tersebut
ada tiga. Pertama, Tasqif (pembinaan). Rasulullah telah melakukan tahap
pertama ini di Darul Arqom. Di rumah tersebut, Rasulullah menanamkan akidah
yang kokoh sebagai prinsip pemikiran para sahabat nabi serta menjadikan kalimat
tauhid sebagai inti daripada kehidupan mereka. Penanaman akidah tersebut
merupakan hal yang mendasar bagi seorang muslim. Karena dengan akidah yang kuat
nan kokoh, setiap muslim akan berhati-hati dalam melakukan suatu perbuatan.
Mereka akan menjadikan halal haram sebagai tolak ukur perbuatan mereka. pada
saat pertama kali masuk Islam yang mereka sebutkan juga kalimat tauhid, yang
dari kalimat tersebut mewujudkan suatu konsekuensi yang harus mereka taati
seluruhnya. Jadi, mereka tidak akan mengambil Islam secara setengah-setengah
melainkan mengambilnya secara totalitas. Karena mereka tahu bahwa hanya dengan
Islamlah mereka akan hidup mulia. Sehingga pada akhirnya, para sahabat tidak
akan mudah goyah imannya jika disandingkan dengan perkara-perkara yang bersifat
duniawi.
Tahapan yang kedua adalah tafa’ul ma’al
ummah (berinteraksi dengan masyarakat). Setelah para sahabat berhasil dalam
tahap pembinaan karena memiliki akidah yang kokoh, para sahabat akan menjadi
pengemban pesan langit kepada kaum jahiliyah. Mereka mulai mendakwahkan apa
saja yang mereka ketahui tentang islam. Mereka juga akan senantiasa mengkritik
praktik-praktik yang bertentang dengan Islam. Seperti halnya penyembahan
berhala yang telah dilakukan masyarakat jahiliyah selama ini. Para sahabat akan
menumpas habis kedzaliman yang ada di tengah masyarakat dan mengajak untuk
masuk Islam tanpa adak paksaan apapun.
Reaksi pun berdatangan. Pada tahapan ini,
kaum muslim mulai mendapatkan halangan dan rintangan yang berakibat penyiksaan
serta pemboikotan. Keistiqomahan kaum muslim banyak diuji pada tahapan ini, karena
apa yang dibawa atau apa yang mereka dakwahkan lansung bergesekan dengan
kebudayaan jahiliyah yang sudah lama mengakar. Itulah yang namanya dakwah
terhadap kebenaran. Selalau ada aral yang melintang untuk menghalangi bahkan
menghentikan lajunya dari dakwah ini. Dan dakwah terhadap kebenaran selalu
melawan sesuatu yang salah dan telah lama mengakar. Hal ini dilakukan
Rasulullah dan para sahabat guna menyampaikan yang haq dan yang bathil.
Senatiasa menyampaikan rusak dan bobroknya sistem jahiliyah dan menawarkan
kepada mereka sebuah pengganti yang jauh lebih adil dan baik, yaitu solusi
Islam atas semuanya.
Kejadian tersebut sama seperti saat ini.
Banyak negara-negara yang ada di dunia ini yang memakai sistem yang bukan
berasal dari Islam. Itulah yang menyebabkan kerusakan terjadi dalam segala
aspek. Mulai dari sosial, ekonomi, moral, dan lain-lain. Nah, ada sekolompok
orang yang menawarkan untuk kembali pada Islam secara totalitas, namun ada juga
orang yang menolak tawaran tersebut. padahal, telah kita ketahui akibat
diterapkannya sistem yang bukan berasal dari Islam adalah seperti kondisi
negara-negara di dunia saat ini. Memang ada, negara-negara yang tergolong
negara maju dari segi teknologinya, akan
tetapi disisi lain banyak terjadi bunuh diri diantara mereka. seperti halnya
Jepang.
Nah, para pembenci kelompok yang menawarkan
untuk kembali pada Islam tersebut rela menghalalkan segala cara untuk
memberangus kelompok tersebut. Beberapa waktu yang lalu, khusunya di Indonesia
banyak terjadi kriminalisasi ulama’, penistaan terhadap agama Islam, pencabutan
BHP suatu ormas Islam, ada partai politik yang menentang perda (hukum) syariah
seperti poligami. Kemudian, dari banyaknya kejadian yang seperti ini apakah
tidak menunjukkan kepada kita bahwa rezim saat ini sedang panik bahkan
ketakutan terhadap kebangkitan Islam? Tentunya hal itu sangat terlihat jika
kita mau mencermati dengan amat teliti. Bagaimana seorang ulama’ bisa
dikriminalisasikan padahal kenyataannya dia tidak bersalah. Bahkan ada seorang
ulama’ saat akan turun dari pesawat disambut dengan senjata tajam dari
orang-orang yang membenci ulama’ tersebut. Apakah ini bukan yang namanya
radikalisme yang sebenarnya? Sering sekali isu radikalisme itu disematkan pada
suatu kelompok yang berlatar belakang Islam. Karena mereka menganggap bahwa
kelompok tersebut ingin mengubah ideologi negara atau memecah belah NKRI. Padahal
yang disampaikan kelompok tersebut bersifat untuk membangun, memperbaiki, serta
mejadikan NKRI menuju kearah yang lebih baik dengan solusi kembali pada Islam
yang ditawarkan. Bukankah ini sesuai dengan yang dicontohkan dan diajarkan
Rasulullah kepada kita?
Sesungguhnya orang-orang yang panik dan
ketakutan terhadap kebangkita Islam tersebut adalah orang-orang yang membenci
Islam atau orang-orang yang selama ini haus dengan kekuasaan sehingga dia
bekerja bukan untuk rakyat melainkan bekerja untuk mendapatkan materi dan
bekerja untuk para tuannya. Kemudian peristiwa yang masih hangat di bulan
Desember ini, yaitu Reuni Akbar 212. Sesuatu yang aneh terjadi. Sesuatu itu
adalah peristiwa sebesar ini tidak diliput oleh stasiun TV manapun kecuali
hanya satu, yaitu TV One (memang beda). Bukankah ini bisa menjadi penyembunyian
sejarah terhadap anak cucu kita nanti? Memang peliputan itu adalah hak mereka,
akan tetapi Reuni ini adalah sejarah terbesar bagi Indonesia yang mampu
mengumpulkan umat hingga berjuta-juta banyaknya dalam satu tempat dan satu
hari. Bukankah hal ini adalah suatu kebaikan? Dan bukankah dengan adanya reuni
ini persatuan diantara kita baik muslim ataupun non muslim semakin terjalin
dengan erat? “Ada Apa Dibalik Semua Ini?”
Kembali lagi pada dakwah era Rasulullah.
Meskipun halangan dan rintangan terus menyerang diri Rasulullah, Rasulullah
tetap terus berdakwah samapi masyarakat memihak kepadanya, dan semua jazirah
mendengar tentang ide-ide islam yang dibawa Rasulullah. Pada akhirnya, opini
tentang Islam telah masuk ke tengah-tengah masyarakat dan mempengaruhi interaksi
mereka. rasulullah tetap konsisten terhadap dakwahnya. Beliau mendatangi
kabilah-kabilah yang ada di sekitar Hijaz untuk menawarkan pada mereka agar
mengambil Islam secara totalitas. Namun, dakwah ajakan tersebut tak bersambut
dengan baik. Sambutan tersebut malah datang dari suku Aus dan Khazraj, dua suku
yang saling berseteru lebih dari 150 tahun. Pada waktu itu, Mush’ab bin Umair
lah yang menjadi duta pertama Islam yang diutus Rasulullah untuk mendakwahkan
Islam ke Madinah. Saad bin Mu’adz dan Usaid bin Khudair lah yang menerima
dakwah Mush’ab bin Umair, dan merekalah yang mejadi pintu bagi
berduyun-duyunnya kaum Madinah menjadi muslim. Bahkan Islam juga dapat
menyelesaikan perseteruan antara suku Aus dan Khazraj dan mengikat mereka
dengan ukhuwah Islamiyah.
Tahapan yang ketiga ini dimulai saat
Rasulullah beserta para sahabatnya hijrah ke Madinah. Pada saat itulah
Rasulullah beralih pada tahapan dakwah yang ketiga, yakni berdakwah dengan
kekuasaan setelah Madinah menjadi negeri kaum muslim yang pertama dan menjadi
sebuah negara yang menerapkan Islam secara utuh. Dimana Al-Quran dan As-Sunnah
menjadi asasnya dan Rasulullah menjadi pemimpinnya.
Perlu kita garis bawahi adalah aktivitas
dakwah bukan hanya mengajak orang untuk berbuat kebaikan. Akan tetapi, dakwah
juga dilakukan untuk mencegah kemungkaran. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِا
لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ...
Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang
ma’ruf dan mencegah dari yang munkar... ” (QS. Ali-Imron:110 )
Begitu juga dengan firman Allah:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ
أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “ Dan
hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)
Rasulullah juga bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ
مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ
لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ
Artinya: “Barang siapa di antara
kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya;
dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika masih tidak mampu juga,
maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR.
Muslim)
Mencegah kemungkaran dapat kita lakukan dengan
mengoreksi kerja permerintah, adakah kerja pemerintah yang mendzalimi rakyat?
Atau ada orang yang ingin melakukan kemaksiatan dan kita tah, kita harus
mencegahnya. Hal ini menandakan bahwa disaat kita mampu mencegah sebuah
kemungkaran, disaat itu pula kita dapat menyelamatkan orang-orang yang ingin
berbuat maksiat dari tipu daya setan serta orang-orang yang akan menjadi korban
dari kemaksiatan tersebut. Dakwah juga dapat dilakukan dengan tangan. Tangan
yang dimaksud adalah dengan menggunakan kekuasaan. Seperti seorang Khalifah
yang dengan kekusaannya bisa mengadili atau menghukum atau menghentikan
kemaksiatan yang dilakukan oleh rakyatnya.
Dakwah yang kita lakukan haruslah berjamaah. Tidak
boleh sendirian. Karena dengan berjamaah, dakwah akan lebih cepat tersebar
daripada dakwah sendirian. Tidak mungkin jika kita seorang diri saja
mendakwahkan keseluruh umat. Akan terasa sangat sulit. Oleh karena itu, sangat
penting jika dakwah dilakukan secara berjamaah.
Menurut Penulis, dengan adanya dakwah
didalam kehidupan kita akan menuntun kita tetap berada pada jalan yang benar.
Aktivitas dakwah akan senantiasa mengingatkan kita untuk berbuat baik dan
mencegah kita untuk melakukan kemaksiatan. Dengan dakwah yang sesuai dengan
metode Nabi akan menjadi cikal bakal kembalinya peradaban Islam yang telah lama
hilang. Bisa jadi, kejayaan Islam yang selama ini kita nanti-nantikan berjalan
secara lamban disebabkan metode dakwah yang kita bawa tidak sesuai dengan
Rasulullah SAW. Kita ketahui pada pembahasan sebelumnya, bahwa dakwah yang
dilakukan Rasulullah memiliki tiga ciri, yaitu tanpa kekerasan, fokus mengubah
pemikiran, dan menyentuh wilayah-wilayah politis.
Ciri kedua yang dimiliki Rasulullah dalam
berdakwah adalah fokus mengubah pemikiran. Kenapa dengan pemikiran? Karena dari
pemikiranlah akan menjadi sebuah pemahaman. Kemudian dari sebuah pemahaman akan
memengaruhi tingkah laku seseorang dalam bertindak. Bangkitnya manusia
tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta
hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum dan sesudah kehidupan.
Supaya manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh
terhadap pemikiran manusia, untuk diganti dengan pemikiran yang lain. Dakwah
yang berasaskan pemikiran (yang islami tentunya) sangatlah penting untuk
menajadi perantara agar pemikiran yang ada di masyarakat berubah menjadi
pemikiran yang islami. Sehingga membentuk pola pikir dan sikapnya menjadi
seseorang yang berkepribadian islam.
Mungkin, ketika kita menyampaikan dakwah
secara pemikiran ini akan sulit, karena tentunya kita akan melawan pemikiran
yang diyakini oleh seseorang selama ini. Ada dengan cepat menerima ada pula
yang menolaknya. Akan tetapi, jika dakwah kita berhasil mengubah pemikirannya
sehingga melahirkan pemahaman yang islami, dia tidak akan mudah goyah dengan
pemikiran yang lain, karena dia sudah memegang teguh pemikiran tersebut karena
telah mengetahui kebenaran dari pemikiran tersebut. Tentunya akan menciptakan
sebuah perilaku yang berbeda dengan perilaku sebelumnya yang notabene
pemikirannya dahulu adalah pemikiran yang sekuler dan liberal. “Meskipun
sulit tapi bisa dan hasilnya tentu saja memuaskan.”
Dakwah menyerukan untuk kembali pada
kehidupan Islam sangatlah penting di era sekarang. Sesungguhnya akar
permasalahan dari problematika umat yang dihadapi saat ini adalah diterapkannya
sistem kufur dalam kehidupan kita. Akibat runtuhnya ke-Khilafahan Turki Utsmani
1924 serta bangkitnya barat yang sering kita dengan (Renaissance) umat Islam
kehilangan induknya yang selama ini menaungi kehidupan mereka dengan aman,
damai, dan sejahtera. Umat Islam saat ini diibaratkan dengan “Sick Man” atau
anak ayam yang sedang kehilangan induknya. Mereka tidak tahu kepada siapa lagi
mereka akan mengadu hingga saat ini menyebabkan umat Islam selalu ditindas dan
dipojokkan oleh musuh-musuh Islam. Penting sekali menyadarkan umat Islam untuk
kembali pada Islam. Karena hanya Islam lah yang mampu menyelesaikan
problematika mereka.
Jika bicara Islam, orang-orang teringat
pada teroris. Perhatikanlah bagaimana Barat selalu melakukan propaganda
monsterisasi terhadap Islam via pernyataan pejabat-pejabatnya. Dan terlebih
lagi via Hollywood yang mengidentikkan teroris dengan Islam, dengan cara
memasang orang-orag Arab untuk memerankan teroris. Di Indonesia,
tersangka-tersangka yang sudah disidang tiba-tiba terlihat mengenakan peci dan
baju koko, mengenakan jilbab dan kerudung, bahkan bercadar. Ini juga bagian
dari stigmatisasi, seolah-olah Muslim yang taat adalah perilaku kriminal.
Berbeda perlakuan jika yang melakukan hal tersebut adalah non Islam. Misalkan
Israel yang selama ini telah menjarah wilayah Palestina bahkan telah membantai
ribuan rakyat Palestina disana. Kemudian pendudukan Amerika di Irak, Suriah,
dan Afganistan mengakibatkan lebih dari satu juta umat Islam telah terbunuh.
Kenapa dunia seakan bungkam jika yang melakukan hal tersebut bukan menyangkut
Islam? Kenapa selalu Islam yang dipersoalkan? “Ingatlah, bahwa kejahatan
yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir!”
Inilah PR besar kita bagi para pengemban
dakwah, bagi para pengemban risalah yang amat mulia ini untuk berupaya kembali
menyadarkan umat. Barat saja rela mengorbankan segalanya demi tumbangnya islam
di muka bumi ini. Seharusnya kita yang telah tahu bahwa kita berada pada posisi
yang benar lebih bisa mengorbankan segalanya demi tegaknya kalimat tauhid, demi
diterapkannya hukum Islam secara totalitas di muka bumi ini. Sebagaimana para
sahabat Rasul yang siap sedia mengorbankan apa saja yang mereka miliki bahkan
nyawanya sekalipun demi tegaknya Islam di seluruh permukaan bumi. Islam sebagai
rahmatan lil ‘aalamiin tidak akan pernah terwujud jika penerapan syariah
Islam tidak diterapkan secara totalitas. Inilah yang bisa mengembalikan
kejayaan Islam untuk umat Muslim bahkan untuk seluruh umat.
Dalam hadits arba’iin yang disusun oleh
Imam An-Nawawi pada hadits ke-28, Rasulullah bersabda:
...فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَةِ
الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَوَاجِذِ...
Artinya: “... Hendaklah kalian berpegang
teguh terhadap ajaranku dan ajaran Al-Khulafau Al-Rasyidin yang mendapatkan
petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham ...” (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi)
Solusi
atas permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini adalah hanya kembali pada
Islam dan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh tidak mengambil hukum
Islam yang baik untuk dirinya. Sedangkan hukum yang buruk untuk dirinya tidak
diterapkan. Ini adalah suatu hal yang keliru. Nah, untuk menerapkan syariat
Islam secara keseluruhan tersebut membutuhkan suatu institusi yang mendukung
penerapan tersebut. Dimana institusi ini adalah yang sesuai dengan ajaran
Rasulullah maupun Khulafaur Rasyidun. Bukan dengan menggunakan sistem-sistem
yang bukan berasal dari Islam. Institusi tersebut disebut dengan Khilafah.
Khilafah ini adalah ajaran Islam. Barat dan
antek-anteknya memang getol sekali untuk membuat propaganda memonsterisasi
ajaran Islam. Terutama Khilafah. Mereka membuat stigma-stigma negatif jika
nanti Khilafah itu tegak, dan syariat islam diterapkan secara kaffah akan
menimbulkan konflik serta kegaduhan. Sebenarnya Barat percaya akan kembalinya
Khilafah ini. Bahkan memprediksikan akan tegak pada tahun 2020. Oleh karena
itu, Barat semakin getol untuk menghalangi tegaknya Khilafah tersebut dengan
memunculkan stigma negatif ataupun monsterisasi terhadap ajaran Islam terutama
Khilafah. Logikanya, kenapa Barat dan antek-anteknya begitu getol dalam
menghalangi kembalinya Khilafah jika Khilafah itu hanya mimpi di siang bolong?
Ini menunjukkan bahwa Khilafah akan benar-benar kembali karena ini adalah janji
dari Allah dan bisyaroh dari Rasulullah langsung kepada kita.
Sebenarnya begitu banyak fakta historis
yang menunjukkan kedamaian, kebaikan, kesejahteraan, dan keamanan diperoleh
umat manusia baik Muslim ataupun kafir ketika tunduk pada syariah Islam dibawah
naungan Khilafah. Sejarahwan Will Durant menyatakan: “Para Khalifah telah
memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi
kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah telah mempersiapkan berbagai
kesempatan bagi siapapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama
berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena
seperti itu setelah masa mereka.”
Meskipun demikian, kita juga bukan menolak
realita sejarah, bahwasannya ada saat-saat kelam dalam sejarah Kekhilafahan.
Tetapi, yang jelas itu bukan salah sistem Khilafahnya, melainkan terjadi karena
penyimpangan terhadap syariah Islam. Persoalannya adalah mengapa mereka yang
membenci dan menolak syariah Islam bahkan menolak Khilafah kerap kali
mengangkat sisi kelam yang merupakan penyimpangan ini, dibandingkan mengekspos
sistem Khilafah yang berabad-abad penuh dengan kebaikan? Tidak lain dan tidak
bukan karena mereka itu anti Islam dan mereka tidak mau ideologi mereka
tergeser bahkan tersingkirkan sehingga tergantikan dengan ideologi Islam.
Tegaknya Khilafah ini adalah sebuah
bisyarah Rasulullah atau kabar gembira dari
Rasulullah untuk kita semua. Adapun hadits yang menyatakan bisyarah Rasulullah
tersebut adalah:
تَكُوْنُ النُبُوَّةُ فِيْكُمْ مَاشَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ
يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةٌ عَلَى
مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَاشَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ
يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَضًّا
فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ
يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَاشَاءَ اللهُ أَنْ
تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ
خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.
Artinya: “Akan datang kepada kalian masa
kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian Allah
akan menghapusnya. Setelah itu akan
datang masa Khilafah “ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu
akan datang. Lalu Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah
itu akan datang kepada kalian masa penguasa menggigit (raja yang zhalim), dan
atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah menghapusnya jika Ia
berkehendak menghapusnya. Setelah itu akan datang penguasa diktator (pemaksa),
dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah akan menghapusnya jika
Ia berkehendak menghapusnya. Kemudian datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj
al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian. Setelah itu beliau
diam.” (HR. Imam Ahmad)
Khilafah juga merupakan janji Allah.
Tentunya janji itu pasti akan ditepati sampai pada waktu yang telah Allah
tetapkan. Allah SWT berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ
الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di
antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang
telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka,
setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi
barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang
yang fasik.” (QS.
An-Nur:55)
Jika Barat percaya akan kembalinya masa
Kekhilafahan berdasarkan manhaj kenabian, kenapa kita yang sebagai umat islam
malah tidak percaya, takut bahkan menolak Khilafah tersebut yang sebenarnya
adalah ajaran dari agama kita? Inilah pentingya kita untuk mengemban dakwah ini
dengan menyebarkan opini di tengah masyarakat bahwa Khilafah adalah ajaran
Islam hingga kesadaran umat terhadap butuhnya mereka dengan Khilafah terwujud.
Tak lupa juga kita harus mengkaji Islam lebih dalam. Mulai dari hal yang paling
mendasar, yakni aqidah sampai pada masalah yang besar berupa Khilafah tadi.
Karena kita tidak mungkin menerapkan Islam secara keseluruhan apabila umat
Islam belum mengetahui dan memahami Islam.
Kesimpulannya adalah dakwah merupakan aktivitas
yang mulia. Dimana dakwah ini bisa menjadi perantara untuk merubah seseorang
agar senantiasa berada pada jalan ketaatan. Supaya dakwah mudah diterima
ditengah masyarakat harus dikemas dengan semenarik mungkin Dakwah untuk
menyadarkan umat akan butuhnya terhadap Khilafah sangatlah penting. Karena
Barat beserta antek-anteknya juga getol dalam menghalangi tegaknya Khilafah.
Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi kaum Muslimin seluruhnya di dunia,
untuk menegakkan hukum-hukum syariah islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh
dunia. Dan Khilafah ini merupakan janji Allah dan kabar gembira dari
Rasulullah. Dengan tegaknya Khilafah, peradaban Islam akan terwujud kembali di
dunia ini. Hanya dengan Khilafahlah yang mampu menjaga kehormatan umat Islam.
Serta mampu mengatasi problematika umat dewasa ini. Serta Islam sebagai rahmatan
lil ‘alamiin akan terwujud. Wallahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar