Jumat, 21 Desember 2018

Masih Belajar Membuat Analisis


ANALISIS
IMPLEMENTASI SISTEM PEMERINTAHAN DEMOKRASI DI INDONESIA
Oleh
 Krisdianti Nurayu Wulandari

Sumber:
1.      Wawancara Guru Mata Pelajaran IPS (Ustadzah Alfiyatul Hasanah)
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari wawancara tersebut adalah bahwasannya demokrasi yang terkenal dengan slogan “Dari rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” selama ini adalah sebuah bentuk kepalsuan. Hal ini dikarenakan parlemen yang katanya berasal dari rakyat tidak sama sekali mencerminkan kemauan rakyat. Dimana dalam penentuan kebijakan tidak mengakomodir kepentingan rakyat tapi kepentingan pemodal. Parlemen penyusun UU bukanlah representasi dari rakyat.
2.      Berita Internet (Kontan.co.id)
Dari riset yang dilakukan Kontan, untuk Pemilu 2014, pemerintah telah mengalokasikan APBN 2013 senilai Rp. 8,1 T sebagai biaya persiapan Pemilu 2014. Ditambah 16 triliun yang masuk dalam APBN 2014, sehingga total pemerintahan kucurkan Rp. 24,1 T untuk pemilu 2014. Sementara untuk Pilkada 2015 total anggaranya mencapai Rp. 7,1 T untuk 269 daerah pemilihan. Dan senilai Rp. 5,95 t untuk Pilkada 2017 di 101 daerah.  
"Untuk Pilkada 2018 Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) yang sudah ditandatangani senilai Rp 11,9 triliun," kata ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arif Budiman kepada KONTAN, di Kantor Pergerakan Indonesia Maju (PIM), Rabu (17/1). Sedangkan untuk Pemilu 2019, Arif mengatakan telah dialokasikan biaya persiapannya senilai Rp 10,4 triliun. Dan akan ditambah senilai Rp 6 triliun pada 2019 kelak.
Jika ditotal, sejak 2014 hinga 2019 mendatang, pemerintah akan mengeluarkan uang senilai Rp 65,45 triliun dalam menyelenggarakan pesta demokrasi.
Arief menyangkal jika uang sebanyak itu sama sekali tak berfaedah. Ia mengatakan, uang yang digunakan untuk membiayai pesta demokrasi baik melalui Pilkada maupun Pemilu dihabiskan juga dalam rangka menjaga keberlangsungan negara, khususnya soal regenerasi pemimpin.
"Ya pasti sebanding, kalau tidak ada anggarannya bagaimana memilih pemimpin? Bagaimana untuk melakukan regenerasi kepemimpinan? Itulah kemudian uang tersebut menjadi berharga dan tak sia-sia." lanjut Arif.
Lagipula, kata Arif untuk untuk anggaran Pilkada misalnya, dari penyerapan anggaran dari perjanjian NPHD nyatanya tak akan semua diserap, dan sisa
uang tersebut akan dikembalikan.
Itu baru dari segi penyerapan uang, namun adakah signifikansi melimpahnya anggaran dengan majunya kehidupan demokrasi di Indonesia? Soal ini, peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro pesimistis. Ia menganggap tak ada korelasi positif antara keduanya. Sebab di level daerah, katanya politik uang masih punya peran penting sehingga menganggu stabilitas demokrasi nasional.
"Ternyata korelasinya tak positif, jadi sudah saatnya sekarang politik uang dalam pilkada entah uang pencalonan uang TPS, uang saksi, uang pengawasan bisa dihindarkan." katanya kepada KONTAN dalam kesempatan yang sama.    
Ia juga menilai partisipasi politik langsung dari masyarakat juga ternyata tak membawa demokrasi Indonesia ke arah yang lebih baik.
"Dengan berbagai pertimbangan tadi itu ternyata demokrasi lokal yang partisipatoris itu tidak berdampak terhadap terwujudnya good government.” ujar dia. Zuhro menambahkan, masyarakat pun menjadi sangat oportunistik juga, tak hanya pragmatis. Ketiga, akhirnya komitmen untuk menjadi pemimpin hanya untuk berkuasa jadi tak ada genuine wilingly yang tentu merugikan Indonesia sebagai negara bangsa.

Analisis:
Demokrasi adalah sebuah sistem yang memiliki slogan, “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat” atau dengan kata lain rakyatlah yang berdaulat di dalam sistem demokrasi ini . Slogan ini sudah tidak asing lagi terdengar di masyarakat umum. Sistem ini dipilih pemerintah karena diyakini sebagai suatu sistem yang dapat membawa bangsa menuju kehidupan yang aman dan sejahtera. Demokrasi juga terkenal dengan musyawarah mufakatnya. Yaitu, apabila ada suatu persoalan  atau hendak memutuskan dan menetapkan suatu perkara harus diselesaikan dengan cara bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama tanpa harus ada timbul perselisihan.
Namun, bagaimana dengan fakta yang sebenarnya? Apakah sistem demokrasi di Indonesia sudah diterapkan secara menyeluruh sehingga membuat rakyat sudah hidup sejahtera, sesuai dengan prinsipnya tersebut? Ataukah prinsip dari demokrasi tersebut hanya sebagai iming-iming belaka, dengan tujuan semakin menguntungkan pejabat-pejabat yang berada di kursi pemerintahan? Mari  kita telusuri secara mendalam.
Tinjauan analisis:
1.      Bidang Politik
Dalam bidang politik, demokrasi diyakini mampu untuk membawa kehidupan rakyat semakin maju dan sejahtera, dan politiknya akan selalu berpihak kepada rakyat. Karena orang yang akan mencalonkan dirinya sebagai wakil rakyat atau menjadi calon Presiden, pastinya memiliki visi dan misi membawa kehidupan rakyat menuju adil, makmur, dan sejahtera. Supaya dia terpilih menjadi wakilnya rakyat.
Akan tetapi, dalam praktiknya, seringkali kita dapati janji-janji yang dikeluarkan dari mulut mereka itu, hanya menjadi pencitraan saja, agar rakyat bersimpati untuk memilihnya dalam pemilu. Selain itu, biaya untuk menyelenggarakan pemilu atau pilkada itu tidaklah dengan biaya yang sedikit. Butuh bertrilyun-trilyun auang untuk menyukseskan acara tersebut. Memang, hal ini dilakukan untuk memilih kepemimpinan baru di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi, hal tersebut menjadikan komitmen untuk menjadi pemimpin hanya untuk berkuasa. Jadi, tak ada rasa yang rela dan tulus yang tentunya merugikan Indonesia sebagai negara bangsa.
Juga saat pesta demokrasi itu datang, mereka yang akan menjadi wakil rakyat berlomba untuk menebarkan citra baik di depan rakyat, guna dapat menarik simpati rakyat. Hal itu dilakukan dengan mengumbar janji yang pada akhirnya juga tidak ditepati. Mahalnya biaya demokrasi menjadi salah satu penyebab tidak terlaksanakannya janji-janji itu. Mereka akan lebih mengedepankan kepentingan para penyokong dana kampanye dibanding rakyat. Politik balas budi akan bermain disini. Mana mungkin penyokong dana kampanye tersebut memberikan dana tersebut secara cuma-cuma di zaman yang serba materi ini? Pasti ada udang dibalik batu.
2.      Bidang Ekonomi
Jika dilihat dari realita yang ada, sistem demokrasi belum mampu membawa rakyat dalam kehidupan yang sejahtera. Kemiskinan masih merajalela, BBM naik sehingga membuat harga-harga bahan pokok pun  naik. Hal ini membuat hidup rakyat yang dari kalangan bawah semakin menderita. Bagaimana mereka bisa berobat ke rumah sakit, misalnya, toh untuk mendapatkan sesuap nasi tiap hari pun belum tentu.
Begitu juga dengan masalah pertambangan-pertambangan di Indonesia. Banyak dari pertambangan yang ada di Indonesia itu masih dikelola oleh asing. Contohnya adalah petambangan emas yang ada di Papua, yang dikelola oleh Freeport sejak tahun 60-an, kemudian ada lagi  tambang geothermal yang berada di Jawa Barat. Perusahaan yang mengelola tambang ini adalah PT Chevron. Jika pertambangan-pertambangan ini dikelola oleh Indonesia sendiri, tentunya mampu untuk meratakan perekonomian di Indonesia.
3.      Bidang Agama
Ditinjau dari segi agama, ternyata demokrasi bukan berasal dari Islam. Selama ini, kebanyakan dari umat Islam menganggap bahwa demokrasi itu berasal dari Islam karena sama-sama ada prinsip syuronya atau musyawarah. Akan tetapi hal ini tidak bisa diterima begitu saja. Kita harus mencari tahu apakah memang benar demokrasi berasal dari Islam? Jika demokrasi diambil karena kemiripannya dengan Islam, lalu kenapa umat tidak memilih sistem yang sesuai dengan Islam atau sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah? Kenapa harus mengambil dan menerapkan yang mirip?
Penyebab
Lalu, kira-kira apa penyebab dari akibat ketika sistem demokrasi diterapkan di Indonesia? Bukankah dengan demokrasi melalui slogannya itu rakyat lebih makmur dan sejahtera?
Sesungguhnya jika demokrasi diterapkan sesuai dengan slogan yang dimiliki, tentunya dengan demokrasi, Indonesia mampu menjadi sebuah negara yang makmur dan sejahtera. Namun nyatanya demokrasi yang diterapkan sekarang itu tidak sesuai dengan slogan yang selama ini digaung-gaungkan. Memang benar bahwa slogan “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” dari luarnya terlihat bagus, akan tetapi jika dilihat yang sebenarnya slogan itu tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan.
Dan sesungguhnya sejarah dari lahirnya atau munculnya demokrasi itu adalah berasal dari masa kegelapan Eropa. Dimana pada saat itu kaisar dan raja-raja di Eropa menjadikan agama sebagai alat untuk memeras rakyat. Dari hal tersebut timbullah pertentangan dari para cendekiawan pada saat itu yang menginginkan supaya agama tidak masuk dalam ranah kehidupan apalagi meencampuri dalam urusan politik. Akhirnya pada saat itu agama hanya mengurusi urusan yang berkaitan dengan Tuhan, sedangkan politik adalah urusan manusia.
Kemudian demokrasi ini dimasukkan ke negeri-negeri  umat Islam, dan umat Islam menerimanya dengan alasan demokrasi ini mirip dengan Islam. Di dalam demokrasi ada yang namanya musyawarah, di dalam Islam pun juga ada yang namanya musyawarah. Oleh karena itu mereka menganggap bahwa demokrasi berasal dari Islam.padaha yang sebenarnya antara demokrasi dan Islam amatlah berbeda. Diantaranya adalah:




Demokrasi
Islam
1.
Sumber Kemunculan
Akal Manusia
Allah
2.
Aqidah
Sekulerisme
Wajib Terikat dengan Hukum Syara’
3.
Pandangan tentang Kedaulatan dan Kekuasaan
a.       Kedaulatan berada di tangan rakyat. Yang membuat hukum adalah rakyat.
b.      Rakyat sebagai sumber kekuasaan
a.       Kedaulatan di tangan Allah
b.      Rakyat sebagai sumber kekuasaan
4.
Kebebasan
Kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan bertingkah laku
Setiap Muslim wajib terikat dengan hukum syara’

Jadi, kemungkinan yang menyebabkan bahwa demokrasi tidak sesuai dengan slogannya sehingga menyebabkan tidak dapat membawa rakyat kepada kehidupan yang sejahtera adalah ternyata demokrasi tidak sesuai dengan Islam. Khususnya terletak pada kedaulatan atau dalam hal pembuatan hukum.  Sesungguhnya dalam Islam pembuat hukum itu adalah Allah, karena Allah lah yang lebih mengetahui bagaimana cara untuk mengatur hamba-hambanya. Berbeda dengan demokrasi yang pembuat hukumnya adalah manusia, yang bisa saja subjektif dalam pembuatan hukum hingga akhirnya dapat menimbulkan pertentangan atau perselisihan diantara sesamanya. Oleh karena itu,  agar kehidupan rakyat terwujud dalam kehidupan yang adil, makmur, dan sejahtera adalah kembali sesuai dengan apa saja yang telah Allah tetapkan.

Dakwah Kontemporer


Dakwah: Cikal Bakal Kembalinya Peradaban Islam
Oleh
 Krisdianti Nurayu Wulandari

Dakwah adalah sebuah aktivitas kebaikan yang diwajibkan oleh Allah kepada kita (umat Islam). Jadi, aktivitas dakwah bukan hanya aktivitasnya para Kyai, atau para Ulama’, melainkan dakwah juga salah satu aktivitas yang diwajibkan kepada kita untuk kita kerjakan. Dakwah berasal dari kata دعا – يدعوا   yang memiliki arti mengajak. Aktivitas dakwah ini disematkan kepada kaum Muslimin sebagai aktivitas yang istimewa. Kenapa istimewa? Karena umat sebelumnya tidak pernah dipikulkan kepada mereka kehormatan ini. Karena juga pada dasarnya dakwah adalah tugas para Nabi dan Rasul. “Dakwah adalah Aktivitas yang Mulia.”
Para pengemban dakwah ini amat dimuliakan oleh Allah SWT. Mereka mulia karena mereka telah menyampaikan ayat-ayat yang agung dengan cara yang penuh kebaikan bukan dengan kekerasan. Maka, yang disampaikan para pengemban dakwah inilah yang membuatnya dimuliakan oleh Allah. Karena tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang menyeru kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam firmannya:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّنْ دَعاَ اِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS. Fusshilat [41]: 33)
Islam adalah agama yang sangat luarbiasa. Allah telah menjadikan Islam sebagai agama yang diridhoi disisinya, sekaligus telah menetapkan pokok-pokok kandungan Al-Quran secara lengkap. Hal inilah yang juga menjadikan Islam sebagai sebuah mabda’, karena memiliki aqidah yang memancarkan peraturan dan didalamnya terdapat fikrah dan thariqah untuk menyelesaikan seluruh problematika yang sedang dihadapi oleh umat. Oleh karena itu, di dalam menyampaikannya juga membutuhkan penyampaian yang menarik atau tidak membosankan. Karena sering kita dapati orang-orang di sekitar kita khususnya anak muda zaman now, lebih tertarik datang ke konser-konser yang penuh maksiat bahkan menghabiskan berjuta-juta uang daripada datang ke pengajian yang berisi kebaikan bahkan tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun untuk menghadiri pengajian tersebut. Inilah yang perlu kita amati. “Pemuda Zaman Now Lebih Tertarik Datang Pada Konser Musik Daripada Datang Ke Pengajian.”
Perlu kita amati bahwasannya sering sekali kesempurnaan dan keindahan Islam itu disampaikan dengan cara yang kurang menarik dan seadanya, padahal apa yang kita sampaikan ini adalah ide-ide yang penuh kebaikan. Disisi lain, para penyampai ide kufur saat ini lebih memahami tentang bagaimana menyampaikan “Dakwah” mereka. Mereka memoles dan mengemas produk pemikiran mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka rela menghabiskan tenaga dan hartanya untuk menyampaikan ide-ide kufur mereka. Tak lain dan tak bukan, mereka tentunya menginginkan materi, materi, dan materi dan keberhasilan tujuan utama mereka, yaitu menghancurkan Islam baik dari luar maupun dari dalam, terutama generasi emas Islam yang betonggak pada yang namanya pemuda. 
Dakwah di era saat ini tentunya memiliki tantangan tersendiri. Sebagaimana dulu Rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya ada saja halangan dan rintangan yang menerpa diri Rasulullah. Jika dulu pada era Rasulullah menyampaikan dakwahnya dengan menghampiri ke setiap rumah yang ada, atau dengan menggunakan wayang seperti Walisongo, maka saat ini, kita memepunyai era yang sangat berbeda dengan era-nya Rasulullah, sahabat Nabi, ataupun Walisongo. Pada zaman kita saat ini, IPTEK telah berkembang se-demikian rupa. Dengan berkembangnya IPTEK ini, tentunya membawa keberuntungan bagi dakwah Islam. Dakwah Islam akan bisa tersebar luas ke seluruh penjuru dunia jika kita bisa memanfaatkan IPTEK tersebut dengan baik.
Jika kita mencermati lingkungan di sekitar kita, maka kita akan mendapati dari berbagai kalangan, baik tua maupun muda yang selalu dipegang dan dilihat tiap menit bahkan tiap detik adalah smartphone. Fakta membuktikan bahwasannya banyak diantara mereka yang aktif di dunia sosial media. Mulai dari instagram, youtube, facebook, twitter dan lain sebagainya. Inilah yang menjadi tantangan dakwah di zaman sekarang. Jika mayoritas penduduk bumi aktif di sosmed, maka para penyampai ide yang mulia ini juga harus aktif di sosmed dan kreatif dalam memoles dan mengemas idenya dengan menarik. Misalkan ide yang mau disampaikan itu bisa dituangklan dalam bentuk video, poster, quotes, atau yang lain. Jangan sampai ide kita yang mulia ini tergeser dengan ide kufur yang lebih menarik. Bagaimana kita menyampaikan dakwah ini adalah suatu hal yang penting demi tersampaikannya ide kita di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kita harus benar-benar memperhatikan konteks atau kulit luar dari dakwah yang kita sampaikan. Jika isi dan kulit luarnya menarik, maka akan banyak orang-orang yang mudah menerima dakwah yang kita sampaikan.
Kemudian penting pula dalam masalah siapa yang menyampaikan. Tentunya yang menyampaikan ide ini haruslah dari orang yang terpercaya bukan dari orang yang sukanya membuat kebohongan di tengah masyarakat. Seperti halnya Rasulullah di kalangan kaum Quraisy terkenal dengan sifatnya yang jujur, amanah bila dipercaya, serta senatiasa memenuhi janji apabila beliau berjanji. Perkataan beliau lembut dan bersahaja. Beliau juga adil dalam memutuskan sesuatu, baik perangainya, peduli pada yang lemah dan pandai menempatkan diri pada yang kuat. Kesempurnaan inilah menjadikan diri Rasulullah digelari dengan Al-Amin. Maka sulit bagi kaum Quraisy untuk tidak menentangnya. Karena kesempurnaan akhlak ada pada diri Rasulullah.
Dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Nabi SAW keluar menuju Bathha’ kemudian beliau naik ke bukit seraya berseru, “Wahai sekalian manusia!” Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Kemudian beliau bertanya, “Bagaimana sekiranya aku mengabarkan kepada kalian bahwa musuh (di balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi , “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.” Akhirnya Abu Lahab pun berkata, “Apakah hanya karena itu kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakaanlah bagimu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Tabbat yadaa abii Lahab...” Hingga akhir ayat. (HR. Bukhari-Muslim)
Lihatlah dalam hadist tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak menolak Nabi Muhammad sebagi penyampai pesan, akan tetapi yang mereka tolak adalah adalah pesan yang dibawa oleh Rasulullah, dimana pesan tersebut berat bagi mereka untuk meninggalkan ajaran nenek moyangnya yang telah mengakar dalam diri mereka. Padahal mereka juga tidak mengingkari bahwa Rasulullah memiliki pribadi yang mulia. Jika dibandingkan dengan dakwah yang kita sampaikan seringkali kita ditolak bukan karena pesan yang disampaikan akan tetapi kitalah yang ditolak disebabkan tidak terpercaya. Meskipun ada juga para pengemban dakwah yang ditolak karena pesan yang disampaikan. “Materi yang Sama, dengan Cara Penyampaian yang Sama Bisa Menjadi Cacat Apabila yang Menyampaikan Tidak Terpercaya.”
Adapun tatacara dalam berdakwah telah Rasulullah contohkan kepada kita. Rasulullah dalam mendakwahkan Islam bercirikan tiga hal. Pertama, Rasulullah senantiasa berdakwah tanpa menggunakan kekerasan. Kedua, fokus pada mengubah pemikiran. Ketiga, menyentuh wilayah-wilayah politis. Ketiga ciri tersebut dapat dilihat dalam tahapan dakwah Rasulullah di Makkah hingga hijrah ke madinah. Tahapan dakwah tersebut ada tiga. Pertama, Tasqif (pembinaan). Rasulullah telah melakukan tahap pertama ini di Darul Arqom. Di rumah tersebut, Rasulullah menanamkan akidah yang kokoh sebagai prinsip pemikiran para sahabat nabi serta menjadikan kalimat tauhid sebagai inti daripada kehidupan mereka. Penanaman akidah tersebut merupakan hal yang mendasar bagi seorang muslim. Karena dengan akidah yang kuat nan kokoh, setiap muslim akan berhati-hati dalam melakukan suatu perbuatan. Mereka akan menjadikan halal haram sebagai tolak ukur perbuatan mereka. pada saat pertama kali masuk Islam yang mereka sebutkan juga kalimat tauhid, yang dari kalimat tersebut mewujudkan suatu konsekuensi yang harus mereka taati seluruhnya. Jadi, mereka tidak akan mengambil Islam secara setengah-setengah melainkan mengambilnya secara totalitas. Karena mereka tahu bahwa hanya dengan Islamlah mereka akan hidup mulia. Sehingga pada akhirnya, para sahabat tidak akan mudah goyah imannya jika disandingkan dengan perkara-perkara yang bersifat duniawi.
Tahapan yang kedua adalah tafa’ul ma’al ummah (berinteraksi dengan masyarakat). Setelah para sahabat berhasil dalam tahap pembinaan karena memiliki akidah yang kokoh, para sahabat akan menjadi pengemban pesan langit kepada kaum jahiliyah. Mereka mulai mendakwahkan apa saja yang mereka ketahui tentang islam. Mereka juga akan senantiasa mengkritik praktik-praktik yang bertentang dengan Islam. Seperti halnya penyembahan berhala yang telah dilakukan masyarakat jahiliyah selama ini. Para sahabat akan menumpas habis kedzaliman yang ada di tengah masyarakat dan mengajak untuk masuk Islam tanpa adak paksaan apapun.
Reaksi pun berdatangan. Pada tahapan ini, kaum muslim mulai mendapatkan halangan dan rintangan yang berakibat penyiksaan serta pemboikotan. Keistiqomahan kaum muslim banyak diuji pada tahapan ini, karena apa yang dibawa atau apa yang mereka dakwahkan lansung bergesekan dengan kebudayaan jahiliyah yang sudah lama mengakar. Itulah yang namanya dakwah terhadap kebenaran. Selalau ada aral yang melintang untuk menghalangi bahkan menghentikan lajunya dari dakwah ini. Dan dakwah terhadap kebenaran selalu melawan sesuatu yang salah dan telah lama mengakar. Hal ini dilakukan Rasulullah dan para sahabat guna menyampaikan yang haq dan yang bathil. Senatiasa menyampaikan rusak dan bobroknya sistem jahiliyah dan menawarkan kepada mereka sebuah pengganti yang jauh lebih adil dan baik, yaitu solusi Islam atas semuanya.
Kejadian tersebut sama seperti saat ini. Banyak negara-negara yang ada di dunia ini yang memakai sistem yang bukan berasal dari Islam. Itulah yang menyebabkan kerusakan terjadi dalam segala aspek. Mulai dari sosial, ekonomi, moral, dan lain-lain. Nah, ada sekolompok orang yang menawarkan untuk kembali pada Islam secara totalitas, namun ada juga orang yang menolak tawaran tersebut. padahal, telah kita ketahui akibat diterapkannya sistem yang bukan berasal dari Islam adalah seperti kondisi negara-negara di dunia saat ini. Memang ada, negara-negara yang tergolong negara maju dari  segi teknologinya, akan tetapi disisi lain banyak terjadi bunuh diri diantara mereka. seperti halnya Jepang.
Nah, para pembenci kelompok yang menawarkan untuk kembali pada Islam tersebut rela menghalalkan segala cara untuk memberangus kelompok tersebut. Beberapa waktu yang lalu, khusunya di Indonesia banyak terjadi kriminalisasi ulama’, penistaan terhadap agama Islam, pencabutan BHP suatu ormas Islam, ada partai politik yang menentang perda (hukum) syariah seperti poligami. Kemudian, dari banyaknya kejadian yang seperti ini apakah tidak menunjukkan kepada kita bahwa rezim saat ini sedang panik bahkan ketakutan terhadap kebangkitan Islam? Tentunya hal itu sangat terlihat jika kita mau mencermati dengan amat teliti. Bagaimana seorang ulama’ bisa dikriminalisasikan padahal kenyataannya dia tidak bersalah. Bahkan ada seorang ulama’ saat akan turun dari pesawat disambut dengan senjata tajam dari orang-orang yang membenci ulama’ tersebut. Apakah ini bukan yang namanya radikalisme yang sebenarnya? Sering sekali isu radikalisme itu disematkan pada suatu kelompok yang berlatar belakang Islam. Karena mereka menganggap bahwa kelompok tersebut ingin mengubah ideologi negara atau memecah belah NKRI. Padahal yang disampaikan kelompok tersebut bersifat untuk membangun, memperbaiki, serta mejadikan NKRI menuju kearah yang lebih baik dengan solusi kembali pada Islam yang ditawarkan. Bukankah ini sesuai dengan yang dicontohkan dan diajarkan Rasulullah kepada kita?
Sesungguhnya orang-orang yang panik dan ketakutan terhadap kebangkita Islam tersebut adalah orang-orang yang membenci Islam atau orang-orang yang selama ini haus dengan kekuasaan sehingga dia bekerja bukan untuk rakyat melainkan bekerja untuk mendapatkan materi dan bekerja untuk para tuannya. Kemudian peristiwa yang masih hangat di bulan Desember ini, yaitu Reuni Akbar 212. Sesuatu yang aneh terjadi. Sesuatu itu adalah peristiwa sebesar ini tidak diliput oleh stasiun TV manapun kecuali hanya satu, yaitu TV One (memang beda). Bukankah ini bisa menjadi penyembunyian sejarah terhadap anak cucu kita nanti? Memang peliputan itu adalah hak mereka, akan tetapi Reuni ini adalah sejarah terbesar bagi Indonesia yang mampu mengumpulkan umat hingga berjuta-juta banyaknya dalam satu tempat dan satu hari. Bukankah hal ini adalah suatu kebaikan? Dan bukankah dengan adanya reuni ini persatuan diantara kita baik muslim ataupun non muslim semakin terjalin dengan erat? “Ada Apa Dibalik Semua Ini?”
Kembali lagi pada dakwah era Rasulullah. Meskipun halangan dan rintangan terus menyerang diri Rasulullah, Rasulullah tetap terus berdakwah samapi masyarakat memihak kepadanya, dan semua jazirah mendengar tentang ide-ide islam yang dibawa Rasulullah. Pada akhirnya, opini tentang Islam telah masuk ke tengah-tengah masyarakat dan mempengaruhi interaksi mereka. rasulullah tetap konsisten terhadap dakwahnya. Beliau mendatangi kabilah-kabilah yang ada di sekitar Hijaz untuk menawarkan pada mereka agar mengambil Islam secara totalitas. Namun, dakwah ajakan tersebut tak bersambut dengan baik. Sambutan tersebut malah datang dari suku Aus dan Khazraj, dua suku yang saling berseteru lebih dari 150 tahun. Pada waktu itu, Mush’ab bin Umair lah yang menjadi duta pertama Islam yang diutus Rasulullah untuk mendakwahkan Islam ke Madinah. Saad bin Mu’adz dan Usaid bin Khudair lah yang menerima dakwah Mush’ab bin Umair, dan merekalah yang mejadi pintu bagi berduyun-duyunnya kaum Madinah menjadi muslim. Bahkan Islam juga dapat menyelesaikan perseteruan antara suku Aus dan Khazraj dan mengikat mereka dengan ukhuwah Islamiyah.
Tahapan yang ketiga ini dimulai saat Rasulullah beserta para sahabatnya hijrah ke Madinah. Pada saat itulah Rasulullah beralih pada tahapan dakwah yang ketiga, yakni berdakwah dengan kekuasaan setelah Madinah menjadi negeri kaum muslim yang pertama dan menjadi sebuah negara yang menerapkan Islam secara utuh. Dimana Al-Quran dan As-Sunnah menjadi asasnya dan Rasulullah menjadi pemimpinnya.
Perlu kita garis bawahi adalah aktivitas dakwah bukan hanya mengajak orang untuk berbuat kebaikan. Akan tetapi, dakwah juga dilakukan untuk mencegah kemungkaran. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ...
Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar... ” (QS. Ali-Imron:110 )
Begitu juga dengan firman Allah:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “ Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 104)
Rasulullah juga bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ
Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya; dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika masih tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Mencegah kemungkaran dapat kita lakukan dengan mengoreksi kerja permerintah, adakah kerja pemerintah yang mendzalimi rakyat? Atau ada orang yang ingin melakukan kemaksiatan dan kita tah, kita harus mencegahnya. Hal ini menandakan bahwa disaat kita mampu mencegah sebuah kemungkaran, disaat itu pula kita dapat menyelamatkan orang-orang yang ingin berbuat maksiat dari tipu daya setan serta orang-orang yang akan menjadi korban dari kemaksiatan tersebut. Dakwah juga dapat dilakukan dengan tangan. Tangan yang dimaksud adalah dengan menggunakan kekuasaan. Seperti seorang Khalifah yang dengan kekusaannya bisa mengadili atau menghukum atau menghentikan kemaksiatan yang dilakukan oleh rakyatnya.
Dakwah yang kita lakukan haruslah berjamaah. Tidak boleh sendirian. Karena dengan berjamaah, dakwah akan lebih cepat tersebar daripada dakwah sendirian. Tidak mungkin jika kita seorang diri saja mendakwahkan keseluruh umat. Akan terasa sangat sulit. Oleh karena itu, sangat penting jika dakwah dilakukan secara berjamaah.
Menurut Penulis, dengan adanya dakwah didalam kehidupan kita akan menuntun kita tetap berada pada jalan yang benar. Aktivitas dakwah akan senantiasa mengingatkan kita untuk berbuat baik dan mencegah kita untuk melakukan kemaksiatan. Dengan dakwah yang sesuai dengan metode Nabi akan menjadi cikal bakal kembalinya peradaban Islam yang telah lama hilang. Bisa jadi, kejayaan Islam yang selama ini kita nanti-nantikan berjalan secara lamban disebabkan metode dakwah yang kita bawa tidak sesuai dengan Rasulullah SAW. Kita ketahui pada pembahasan sebelumnya, bahwa dakwah yang dilakukan Rasulullah memiliki tiga ciri, yaitu tanpa kekerasan, fokus mengubah pemikiran, dan menyentuh wilayah-wilayah politis.
Ciri kedua yang dimiliki Rasulullah dalam berdakwah adalah fokus mengubah pemikiran. Kenapa dengan pemikiran? Karena dari pemikiranlah akan menjadi sebuah pemahaman. Kemudian dari sebuah pemahaman akan memengaruhi tingkah laku seseorang dalam bertindak. Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum dan sesudah kehidupan. Supaya manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia, untuk diganti dengan pemikiran yang lain. Dakwah yang berasaskan pemikiran (yang islami tentunya) sangatlah penting untuk menajadi perantara agar pemikiran yang ada di masyarakat berubah menjadi pemikiran yang islami. Sehingga membentuk pola pikir dan sikapnya menjadi seseorang yang berkepribadian islam.
Mungkin, ketika kita menyampaikan dakwah secara pemikiran ini akan sulit, karena tentunya kita akan melawan pemikiran yang diyakini oleh seseorang selama ini. Ada dengan cepat menerima ada pula yang menolaknya. Akan tetapi, jika dakwah kita berhasil mengubah pemikirannya sehingga melahirkan pemahaman yang islami, dia tidak akan mudah goyah dengan pemikiran yang lain, karena dia sudah memegang teguh pemikiran tersebut karena telah mengetahui kebenaran dari pemikiran tersebut. Tentunya akan menciptakan sebuah perilaku yang berbeda dengan perilaku sebelumnya yang notabene pemikirannya dahulu adalah pemikiran yang sekuler dan liberal. “Meskipun sulit tapi bisa dan hasilnya tentu saja memuaskan.”
Dakwah menyerukan untuk kembali pada kehidupan Islam sangatlah penting di era sekarang. Sesungguhnya akar permasalahan dari problematika umat yang dihadapi saat ini adalah diterapkannya sistem kufur dalam kehidupan kita. Akibat runtuhnya ke-Khilafahan Turki Utsmani 1924 serta bangkitnya barat yang sering kita dengan (Renaissance) umat Islam kehilangan induknya yang selama ini menaungi kehidupan mereka dengan aman, damai, dan sejahtera. Umat Islam saat ini diibaratkan dengan “Sick Man” atau anak ayam yang sedang kehilangan induknya. Mereka tidak tahu kepada siapa lagi mereka akan mengadu hingga saat ini menyebabkan umat Islam selalu ditindas dan dipojokkan oleh musuh-musuh Islam. Penting sekali menyadarkan umat Islam untuk kembali pada Islam. Karena hanya Islam lah yang mampu menyelesaikan problematika mereka.
Jika bicara Islam, orang-orang teringat pada teroris. Perhatikanlah bagaimana Barat selalu melakukan propaganda monsterisasi terhadap Islam via pernyataan pejabat-pejabatnya. Dan terlebih lagi via Hollywood yang mengidentikkan teroris dengan Islam, dengan cara memasang orang-orag Arab untuk memerankan teroris. Di Indonesia, tersangka-tersangka yang sudah disidang tiba-tiba terlihat mengenakan peci dan baju koko, mengenakan jilbab dan kerudung, bahkan bercadar. Ini juga bagian dari stigmatisasi, seolah-olah Muslim yang taat adalah perilaku kriminal. Berbeda perlakuan jika yang melakukan hal tersebut adalah non Islam. Misalkan Israel yang selama ini telah menjarah wilayah Palestina bahkan telah membantai ribuan rakyat Palestina disana. Kemudian pendudukan Amerika di Irak, Suriah, dan Afganistan mengakibatkan lebih dari satu juta umat Islam telah terbunuh. Kenapa dunia seakan bungkam jika yang melakukan hal tersebut bukan menyangkut Islam? Kenapa selalu Islam yang dipersoalkan? “Ingatlah, bahwa kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir!”
Inilah PR besar kita bagi para pengemban dakwah, bagi para pengemban risalah yang amat mulia ini untuk berupaya kembali menyadarkan umat. Barat saja rela mengorbankan segalanya demi tumbangnya islam di muka bumi ini. Seharusnya kita yang telah tahu bahwa kita berada pada posisi yang benar lebih bisa mengorbankan segalanya demi tegaknya kalimat tauhid, demi diterapkannya hukum Islam secara totalitas di muka bumi ini. Sebagaimana para sahabat Rasul yang siap sedia mengorbankan apa saja yang mereka miliki bahkan nyawanya sekalipun demi tegaknya Islam di seluruh permukaan bumi. Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin tidak akan pernah terwujud jika penerapan syariah Islam tidak diterapkan secara totalitas. Inilah yang bisa mengembalikan kejayaan Islam untuk umat Muslim bahkan untuk seluruh umat.
Dalam hadits arba’iin yang disusun oleh Imam An-Nawawi pada hadits ke-28, Rasulullah bersabda:
...فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَوَاجِذِ...
Artinya: “... Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Al-Khulafau Al-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham ...” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
 Solusi atas permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini adalah hanya kembali pada Islam dan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh tidak mengambil hukum Islam yang baik untuk dirinya. Sedangkan hukum yang buruk untuk dirinya tidak diterapkan. Ini adalah suatu hal yang keliru. Nah, untuk menerapkan syariat Islam secara keseluruhan tersebut membutuhkan suatu institusi yang mendukung penerapan tersebut. Dimana institusi ini adalah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah maupun Khulafaur Rasyidun. Bukan dengan menggunakan sistem-sistem yang bukan berasal dari Islam. Institusi tersebut disebut dengan Khilafah.
Khilafah ini adalah ajaran Islam. Barat dan antek-anteknya memang getol sekali untuk membuat propaganda memonsterisasi ajaran Islam. Terutama Khilafah. Mereka membuat stigma-stigma negatif jika nanti Khilafah itu tegak, dan syariat islam diterapkan secara kaffah akan menimbulkan konflik serta kegaduhan. Sebenarnya Barat percaya akan kembalinya Khilafah ini. Bahkan memprediksikan akan tegak pada tahun 2020. Oleh karena itu, Barat semakin getol untuk menghalangi tegaknya Khilafah tersebut dengan memunculkan stigma negatif ataupun monsterisasi terhadap ajaran Islam terutama Khilafah. Logikanya, kenapa Barat dan antek-anteknya begitu getol dalam menghalangi kembalinya Khilafah jika Khilafah itu hanya mimpi di siang bolong? Ini menunjukkan bahwa Khilafah akan benar-benar kembali karena ini adalah janji dari Allah dan bisyaroh dari Rasulullah langsung kepada kita.
Sebenarnya begitu banyak fakta historis yang menunjukkan kedamaian, kebaikan, kesejahteraan, dan keamanan diperoleh umat manusia baik Muslim ataupun kafir ketika tunduk pada syariah Islam dibawah naungan Khilafah. Sejarahwan Will Durant menyatakan: “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.”
Meskipun demikian, kita juga bukan menolak realita sejarah, bahwasannya ada saat-saat kelam dalam sejarah Kekhilafahan. Tetapi, yang jelas itu bukan salah sistem Khilafahnya, melainkan terjadi karena penyimpangan terhadap syariah Islam. Persoalannya adalah mengapa mereka yang membenci dan menolak syariah Islam bahkan menolak Khilafah kerap kali mengangkat sisi kelam yang merupakan penyimpangan ini, dibandingkan mengekspos sistem Khilafah yang berabad-abad penuh dengan kebaikan? Tidak lain dan tidak bukan karena mereka itu anti Islam dan mereka tidak mau ideologi mereka tergeser bahkan tersingkirkan sehingga tergantikan dengan ideologi Islam.
Tegaknya Khilafah ini adalah sebuah bisyarah Rasulullah atau kabar gembira dari Rasulullah untuk kita semua. Adapun hadits yang menyatakan bisyarah Rasulullah tersebut adalah:
تَكُوْنُ النُبُوَّةُ فِيْكُمْ مَاشَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَاشَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَضًّا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَاشَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.
Artinya: “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian Allah akan  menghapusnya. Setelah itu akan datang masa Khilafah “ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu akan datang kepada kalian masa penguasa menggigit (raja yang zhalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu akan datang penguasa diktator (pemaksa), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah akan menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Kemudian datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian. Setelah itu beliau diam.” (HR. Imam Ahmad)
Khilafah juga merupakan janji Allah. Tentunya janji itu pasti akan ditepati sampai pada waktu yang telah Allah tetapkan. Allah SWT berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 
Artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur:55)
Jika Barat percaya akan kembalinya masa Kekhilafahan berdasarkan manhaj kenabian, kenapa kita yang sebagai umat islam malah tidak percaya, takut bahkan menolak Khilafah tersebut yang sebenarnya adalah ajaran dari agama kita? Inilah pentingya kita untuk mengemban dakwah ini dengan menyebarkan opini di tengah masyarakat bahwa Khilafah adalah ajaran Islam hingga kesadaran umat terhadap butuhnya mereka dengan Khilafah terwujud. Tak lupa juga kita harus mengkaji Islam lebih dalam. Mulai dari hal yang paling mendasar, yakni aqidah sampai pada masalah yang besar berupa Khilafah tadi. Karena kita tidak mungkin menerapkan Islam secara keseluruhan apabila umat Islam belum mengetahui dan memahami Islam.
Kesimpulannya adalah dakwah merupakan aktivitas yang mulia. Dimana dakwah ini bisa menjadi perantara untuk merubah seseorang agar senantiasa berada pada jalan ketaatan. Supaya dakwah mudah diterima ditengah masyarakat harus dikemas dengan semenarik mungkin Dakwah untuk menyadarkan umat akan butuhnya terhadap Khilafah sangatlah penting. Karena Barat beserta antek-anteknya juga getol dalam menghalangi tegaknya Khilafah. Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi kaum Muslimin seluruhnya di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. Dan Khilafah ini merupakan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah. Dengan tegaknya Khilafah, peradaban Islam akan terwujud kembali di dunia ini. Hanya dengan Khilafahlah yang mampu menjaga kehormatan umat Islam. Serta mampu mengatasi problematika umat dewasa ini. Serta Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin akan terwujud. Wallahu a’lam